Limapuluh Kota, Balaiwartawan.com — Peringatan Haul Tan Malaka ke-77 tahun digelar di makam dan Rumah Gadang Tan Malaka, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota, Minggu (22/2/2026) siang. Kegiatan itu berlangsung khidmat dengan dihadiri Bupati Limapuluh Kota H Safni, Wakil Bupati Ahlul Badrito Resha, serta sederet tokoh masyarakat dan pegiat sejarah.
Rangkaian acara diisi dengan upacara simbolis, doa bersama, dan tabur bunga di pusara pahlawan nasional tersebut. Tan Malaka yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963 dikenal sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan dan pemikir republik.
Ketua Yayasan Ibratama dan perwakilan YPP PDRI 1948–1949 dalam sambutannya menyampaikan sejumlah harapan kepada Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Mereka mendorong agar peringatan haul Tan Malaka ditetapkan sebagai agenda resmi tingkat daerah.
“Kami berharap Bupati berkenan merevisi peraturan bupati tentang peringatan hari besar dan sejarah di Limapuluh Kota, agar Haul Tan Malaka pada 2 Juli atau 21 Februari bisa menjadi peringatan resmi daerah,” ujar Ferizal Ridwan, Ketua Yayasan Ibratama.
Ia juga mengusulkan agar kegiatan renungan suci malam 17 Agustus dipusatkan di makam Tan Malaka di Pandam Gadang. Menurut dia, hal itu sejalan dengan status Tan Malaka sebagai pahlawan kemerdekaan nasional dan bagian dari sejarah perjuangan republik.
Selain itu, yayasan mengusulkan pembangunan tugu di kompleks SMP Negeri 1 Payakumbuh, atau yang dikenal sebagai SMP Bunga Setangkai. Tugu tersebut direncanakan menampilkan lima tokoh nasional dan daerah asal Luak Limopuluah, yakni Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, Tuanku Imam Bonjol, dan Chairil Anwar.
“Kami akan berupaya mencari dukungan dana dan sponsor untuk pembangunan tugu tersebut. Harapannya, pemerintah daerah dapat memberikan izin dan dukungan,” kata perwakilan yayasan.
Terkait sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), YPP PDRI 1948–1949 berharap organisasi itu dapat kembali dilibatkan sebagai pemangku kepentingan oleh pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Mereka menilai daerah basis PDRI perlu mendapat perhatian lebih proporsional dalam narasi sejarah nasional.
Perwakilan YPP PDRI menyebut, sejak tahun 2000 pihaknya memperjuangkan pelurusan sejarah PDRI hingga terbitnya Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006 tentang Hari Bela Negara. Mereka juga mengingatkan pengakuan Sjafruddin Prawiranegara sebagai Pahlawan Nasional pada 2011 sebagai bagian dari upaya tersebut.
Selain itu, yayasan mengusulkan penamaan jalan dan gedung di Limapuluh Kota menggunakan nama-nama pahlawan nasional. Bahkan, mereka mendorong agar pemerintah daerah mengusulkan perubahan nama Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (PPNP) dengan nama tokoh pahlawan asal daerah.
Yayasan Ibratama juga memohon dukungan pemerintah daerah untuk rencana pendirian, Universitas Islam Tan Malaka. Menurut pihak yayasan, proses administrasi dan penentuan lokasi di wilayah Limapuluh Kota telah mulai dilakukan.
Profesor Rizki Adam dan Hengky Novaron Dt Tan Malaka, selaku pembina yayasan turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan pemerintah daerah dalam peringatan haul tersebut. Hal senada disampaikan pengurus YPP PDRI 1948–1949, di antaranya N Ben Yuza, Deni Asra, dan H Ismardi.
Ketua panitia Desmar Ayudi menambahkan, rangkaian kegiatan haul tidak hanya berupa upacara dan ziarah, tetapi juga silaturahim dan buka puasa bersama yang sudah dijadwalkan pada Rabu (25/2/2026) di Gedung IPHI Limapuluh Kota, Tanjung Pati.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sejarah sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat,” tutup Khairul Apit, Presidium Tan Malakais, menutup acara. (Red)






