Yayasan Ibratama Sampaikan Apresiasi atas Penyelenggaraan Haul Ke-77 Tan Malaka di Kediri

LIMAPULUH KOTA, Balaiwartawan.com- Peringatan haul ke-77 Tan Malaka di Kediri sudah digelar, Sabtu (14/2/2026), lebih awal pada tahun ini. Selain menjadi momentum ziarah, kegiatan tersebut diposisikan sebagai ruang refleksi atas gagasan dan jejak intelektual tokoh bangsa yang pemikirannya dinilai tetap relevan lintas generasi.

‎Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka (Ibratama), Ferizal Ridwan Sultan Purnama Agung, mewakili pihak keluarga dari Kelarasan Bungo Setangkai Pandam Gadang, menyampaikan apresiasi yang tinggi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Haul Tan Malaka ke-77 yang digelar oleh para pegiat sejarah, jurnalis, mahasiswa dan unsur masyarakat di Desa Selopanggung beberapa waktu lalu.

‎Ferizal berharap rangkaian kegiatan haul Tan Malaka di Kediri menjadi amal kebaikan, sekaligus mempererat silaturahmi antara keluarga besar, pengagum dan simpatisan Tan Malaka di Limapuluh Kota dan Kediri.

“Yayasan juga merencanakan doa bersama dan tabur bunga pada 21 Februari 2026 ini, disertai agenda berbuka bersama pada bulan Ramadan di Kabupaten Limapuluh Kota,” kata Ferizal Ridwan, kepada wartawan, Minggu (15/2/2026).

‎Ditambahkan tokoh yang juga mantan Wali Nagari Pandam Gadang, Khairul Apit, agenda acara ramah tamah dan buka bersama sekaligus digelar sekaitan momentum refleksi 1 tahun kepemimpinan kepala daerah Limapuluh Kota 2025 – 2029.

‎”Dalam refleksi itu kita ikut memperingati 77 tahun wafatnya Tan Malaka, 20 tahun ditemukannya makam Tan Malaka di Selopanggung, serta 10 tahun pemindahan makam Tan Malaka dari Kediri ke Limapuluh Kota,” ungkapnya.

‎Seperti diketahui, pusat kegiatan haul berlangsung di area makam Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Lokasi ini telah lama menjadi titik temu pegiat sejarah, mahasiswa, serta masyarakat umum yang ingin mengenang kiprah salah satu tokoh penting dalam perjalanan republik.

‎Riwayat penemuan makam tersebut menyimpan cerita panjang. Pada 2009, pembongkaran nisan batu di lokasi itu diikuti pemeriksaan forensik yang menemukan jasad laki-laki dengan indikasi kuat sebagai korban eksekusi.

‎Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa jasad itu berkaitan dengan misteri hilangnya Tan Malaka pada akhir 1940-an.

‎Keyakinan itu semakin menguat setelah kajian mendalam oleh sejarawan Belanda Harry A. Poeze, yang selama puluhan tahun meneliti perjalanan hidup Tan Malaka.

‎Penelitiannya menghubungkan berbagai bukti historis dengan figur penulis Naar de Republiek, sehingga memperkaya pemahaman publik tentang akhir hayat tokoh tersebut.

‎Secara historis, Tan Malaka ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1963 oleh Presiden Sukarno, meski keberadaan makamnya baru teridentifikasi secara luas beberapa dekade kemudian.

‎Penetapan itu menandai pengakuan negara atas kontribusi intelektual dan politiknya dalam gagasan kemerdekaan.

‎Sejak makam tersebut dikenal publik pada pertengahan 2000-an, arus peziarah datang dari berbagai daerah.

‎Mereka hadir pada momen peringatan kelahiran maupun wafatnya Tan Malaka, menjadikan situs itu sebagai ruang perjumpaan antara sejarah, memori kolektif, dan refleksi kebangsaan.

‎Perwakilan Tan Malaka Institute Jawa Timur, Imam Mubarok, menjelaskan bahwa haul tahun ini dimajukan dari jadwal rutin 21 Februari karena bertepatan dengan bulan Ramadan. Menurut dia, penyesuaian waktu dilakukan agar partisipasi publik tetap optimal tanpa mengurangi kekhidmatan acara.

‎‎”Rangkaian kegiatan tidak sebatas ziarah dan bersih makam. Peserta diajak membaca kembali biografi Tan Malaka, mendengarkan puisi, menyanyikan lagu perjuangan, serta mengikuti tahlil. Format ini dirancang untuk menghubungkan dimensi spiritual dengan refleksi intelektual,” kata Imam Bubarok, dikutip dari media siber, Kediripedia.com.

‎Keterlibatan generasi muda, katanya, menjadi perhatian utama panitia. Mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Kediri hingga Madiun turut ambil bagian, termasuk perwakilan dari UIN Syekh Wasil Kediri yang dijadwalkan membacakan puisi reflektif.

‎”Kehadiran mereka dipandang penting sebagai jembatan pewarisan gagasan,” tambahnya.

‎Imam menilai pemikiran Tan Malaka, mulai dari logika hingga pendekatan materialisme dan dialektika, masih relevan untuk dibaca ulang dalam konteks Indonesia modern.

‎‎Haul, kata dia, menjadi medium edukasi publik yang menghidupkan kembali diskursus kebangsaan. Menjelang pelaksanaan, puluhan peserta telah mendaftar.

‎”Komposisinya beragam, dari pegiat literasi sejarah hingga komunitas budaya. Antusiasme ini menunjukkan bahwa figur Tan Malaka tetap memiliki daya tarik sebagai sumber inspirasi intelektual dan moral,” tutur Imam Mubarok. (Rilis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *