Lima Puluh Kota, Balaiwartawan.com – Dewan Pimpinan Cabang Serikat Petani Indonesia (DPC SPI) Kabupaten Lima Puluh Kota menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) yang strategis pada Minggu, (28/12/25), bertempat di Jorong Subaladung, Nagari Sungai Kamuyang. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Rakerwil SPI Sumatera Barat pada 19 November 2025, dengan tujuan menyatukan kekuatan petani menghadapi tekanan sistem pertanian yang semakin kompleks.
Rakercab menjadi forum untuk mengevaluasi kondisi riil petani di tingkat basis dan menyusun agenda perjuangan ke depan yang berorientasi pada kedaulatan pangan dan reforma agraria sejati. Ketua DPC SPI Lima Puluh Kota, Jasril St. Maliputi, menekankan bahwa acara ini bukan sekadar rutin.
“Ini momentum untuk menata kekuatan organisasi dan memperkuat basis agar tidak terjepit oleh tantangan yang terus bertambah.”ujar Jasril
Anggota Majelis Nasional Petani SPI yang aktif di agroekologi Sago Indra, menyatakan bahwa pendidikan basis dan sosialisasi program menjadi masalah paling mendesak yang di bahas dalam Rakercab.
“Tantangan terbesar kita adalah mensosialisasikan program kepada petani dan memperkuat basis agar tetap tegak lurus pada garis perjuangan agroekologi dan kedaulatan pangan,” ucap Sago Indra.
Dalam pembahasan, Rakercab mencatat isu struktural yang krusial yang dihadapi petani, keterbatasan akses tanah, ketergantungan pada pupuk dan benih industri, lemahnya akses pasar, serta kelemahan organisasi koperasi. Oleh karena itu, diputuskan sejumlah langkah prioritas, sosialisasi SPI ke semua nagari, pendidikan organisasi dan koperasi, serta pendataan anggota yang ditargetkan selesai April 2026. Juga akan dilaksanakan pendidikan kepemimpinan kabupaten dan pembentukan Tim Bakti.
SPI Lima Puluh Kota juga menegaskan enam agenda program inti, reforma agraria, agroekologi, penguatan koperasi, perlawanan neoliberalisme, kedaulatan pangan, dan hak azasi petani. Semua ini dilakukan murni swadaya tanpa dana dari pemerintah daerah.
Dengan dukungan dari media, LSM, dan organisasi lain guna untuk menciptakan stabilitas ekonomi petani Gambir Liko, dan masyarakat umum.
“Sebenarnya ini adalah tugas dinas pertanian dalam merespon atensi mentri pertanian, tapi kadis pertaniannya kurang peka. Jadi kami tidak bisa menunggu bantuan dari luar terus-menerus. Kita harus bangkit sendiri, tanpa dana dari pemkab,” ujar salah satu peserta Rakercab SPI Lima Puluh Kota.
(Agus Suprianto)






