Medan, Balaiwartawan.com- Kemajuan teknologi digital menjadi peluang sekaligus tantangan bagi upaya memperkuat literasi sejarah di Indonesia. Hal ini menjadi sorotan utama dalam Seminar Literasi Sejarah Indonesia yang digelar oleh Kementerian Kebudayaan di Medan, Kamis (20/11).
Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Dr. Agus Mulyana, menegaskan bahwa lembaga budaya kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan informasi konvensional. Museum, arsip, perpustakaan, dan lembaga pendidikan harus bertransformasi menjadi pusat pengetahuan digital.
“Bangunan bersejarah, arsip kolonial, bahkan cerita rakyat harus masuk ke ruang digital. Generasi muda tidak akan datang ke museum jika museo-museum tidak hadir di platform digital yang mereka gunakan,” katanya.
Data APJII menunjukkan 82% masyarakat Sumatera Utara terhubung ke internet. Namun tingginya penetrasi digital belum diimbangi literasi sejarah yang memadai. Dampaknya, ruang digital rentan dipenuhi narasi sejarah tanpa referensi, bahkan hoaks yang tampak akademik.
Guru Besar Sejarah FIB USU, Prof. Budi Agustono, menilai bahwa banyak arsip penting di Medan masih tersimpan di ruang penyimpanan atau koleksi keluarga tanpa digitalisasi. “Ini kehilangan besar. Arsip kolonial Deli, foto-foto sejarah Medan Area, dokumen keluarga tokoh nasional, semuanya perlu diselamatkan dan didokumentasikan,” ujarnya.
Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, menambahkan bahwa digitalisasi bukan hanya upaya administrasi, tetapi upaya menjaga ingatan kolektif bangsa. Banyak generasi muda lebih akrab dengan konten viral daripada narasi sejarah yang akurat.
“Jika kita tidak memanfaatkan teknologi, maka yang membentuk pemikiran generasi muda bukan fakta sejarah, tetapi ilusi sejarah,” tegasnya.
Dalam diskusi, para narasumber menawarkan beberapa strategi utama:
Digitalisasi arsip sejarah lokal dan nasional
Pengembangan aplikasi pembelajaran sejarah
Dokumentasi bangunan heritage dengan teknologi AR/VR
Pelibatan konten kreator sejarah Medan
Integrasi program literasi digital dan literasi sejarah di sekolah
Kegiatan ini diharapkan menjadi katalis dalam memperkuat ekosistem digital yang mendukung penyebaran informasi sejarah yang valid, menarik, dan mudah diakses masyarakat.(BW)






