Kapolda Sumbar: Gerakan Subuh Berjamaah Penguat Benteng Moral dan Kamtibmas

PADANG, Balaiwartawan.com – Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Kapolda Sumbar) Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K. dan seluruh jajaran Polda Sumatera Barat untuk mengintensifkan pendekatan keagamaan dan budaya dalam menjaga stabilitas keamanan. Melalui program Gerakan Subuh Berjamaah (GSB), Kapolda bersama Pejabat Utama (PJU) Polda, personel, untuk turun langsung melaksanakan shalat subuh berjamaah secara bergiliran di masjid-masjid di Kota Padang.

Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen nyata Polda Sumbar untuk hadir di tengah masyarakat pada setiap waktu, sekaligus meruntuhkan sekat formalitas antara aparat penegak hukum dan warga negara. Melalui gerakan ini, Kapolda Sumbar ingin memastikan bahwa deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) dimulai sejak fajar menyingsing.

Di samping menjaga keamanan masyarakat, Kapolda Sumbar menegaskan bahwa program Subuh Berjamaah ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban ibadah ritual keagamaan rutin bagi personel yang Muslim. Lebih dari itu, momentum ini dirancang sebagai ruang komunikasi dua arah (cooling system) yang paling efektif dan inklusif untuk menyerap aspirasi langsung dari akar rumput.

“Kami ingin mendengar langsung apa yang menjadi keluhan, kekhawatiran, dan masukan dari masyarakat tanpa harus terhalang oleh meja birokrasi. Usai shalat subuh, di dalam rumah ibadah yang suci ini, kita duduk bersama secara setara. Polisi, ulama, tokoh adat, dan jamaah berdialog santai namun bermakna demi mencari solusi atas berbagai persoalan di tengah – tengah masyarakat,” ujar Kapolda Sumbar. Kamis, (1/10/26).

Menurut Kapolda, kehadiran Polri di masjid-masjid pada waktu fajar juga memberikan dampak psikologis berupa rasa aman ganda bagi masyarakat, terutama bagi warga yang harus memulai aktivitas ekonominya di pagi buta.

Lebih lanjut, Kapolda Sumbar menjelaskan bahwa dasar filosofis utama dari Gerakan Subuh Berjamaah ini adalah kepatuhan dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap kearifan lokal masyarakat Sumatera Barat. Kebijakan ini sepenuhnya mempedomani falsafah hidup luhur Minangkabau, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

“Sumatera Barat memiliki fondasi adat dan agama yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosialnya. Oleh karena itu, institusi kepolisian di bawah kepemimpinan saya harus mampu melebur ke dalam tatanan nilai tersebut. Dengan mempedomani filosofi ABS-SBK, kita bersama-sama memperkuat benteng moral masyarakat untuk memelihara Kamtibmas yang harmonis di Bumi Minangkabau,” tegas Kapolda Sumbar.

Di samping menjaga keamanan masyarakat, Kapolda Sumbar menaruh perhatian khusus terhadap masa depan generasi muda di Ranah Minang. Dalam setiap arahan Subuh Berjamaah, Kapolda menekankan pentingnya peran bersama dalam memitigasi penyakit sosial, seperti maraknya aksi tawuran, kenakalan remaja, hingga bahaya dari penyalahgunaan narkoba.

“Jika kita mampu merangkul generasi muda untuk kembali ke masjid, meramaikan subuh bersama kepolisian dan para ulama, maka secara otomatis kita sedang membentengi mereka dari pengaruh negatif narkoba dan perilaku menyimpang lainnya,” jelas Kapolda.

Dengan meluasnya Gerakan Subuh Berjamaah ini ke seluruh wilayah hukum Sumatera Barat, Kapolda Irjen Pol. Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K. yakin sekat birokrasi akan melebur menjadi kedekatan emosional. Harapan besar kini bertumpu pada sinergi kokoh antara ulama, pemuka adat (tigo tungku sajarangan), dan kepolisian untuk melahirkan masa depan Sumatera Barat yang aman, damai, serta tenteram dalam balutan nilai-nilai religius. (Agus Suprianto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *