Mantan Kades Gunung Sanggul Bantah Rumor Pemberian Gelar “Datuak” oleh Warga Hulu Aia

Limapuluh Kota, Balaiwartawan.com – Mantan Kepala Desa Gunung Sanggul, Zainal S., angkat bicara demi meluruskan pemberitaan keliru yang belakangan ini beredar luas di tengah masyarakat. Isu tersebut berkaitan dengan rumor bahwa masyarakat Nagari Hulu Aia telah memberikan gelar adat “Datuak” kepada sahabat baiknya, Tukiran Datuak Bandaro Putih dan Elbert Datuak Bandaro Mudo

Zainal S. secara tegas membantah informasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa gelar adat yang melekat pada nama sahabatnya, yaitu Tukiran Dt. Bandaro Putih dan Elbert Datuak Bandaro Mudo, merupakan pemberian resmi dari Suku Sakai, Riau, dan bukan dari niniak mamak Nagari Hulu Aia.

“Tidak ada Nagari Hulu Aia memberikan gelar Datuak kepada Tukiran Elbert. Gelar beliau itu asalnya dari Suku Sakai. Kedatangan beliau ke Nagari Hulu Aia pun turut diantarkan langsung oleh perwakilan masyarakat Suku Sakai Riau,” ujar Zainal S. Selasa, (22/9/2026).

Zainal menambahkan, kehadiran Tukiran dan Elber di Nagari Hulu Aia murni untuk menerima penghargaan dan ucapan terima kasih dari masyarakat, bukan untuk penobatan gelar adat baru. Penghargaan ini diberikan atas kedermawanan luar biasa Tukiran yang telah membawa dampak nyata bagi kemajuan nagari.

Kontribusi Tukiran dan Elbert terhadap masyarakat Hulu Aia mencakup berbagai aksi sosial, mulai dari pengadaan lampu penerang jalan, bantuan dua ekor kambing untuk anak yatim, hingga merampungkan pembangunan balai adat yang sebelumnya sempat terbengkalai. Tidak tanggung-tanggung, pengusaha tersebut juga berencana membangun sebuah masjid megah di Hulu Aia dengan nilai anggaran mencapai Rp 1 Miliar.

Mengenai latar belakang Tukiran yang beragama Buddha, Zainal menegaskan bahwa perbedaan keyakinan sama sekali tidak pernah menjadi persoalan bagi masyarakat Hulu Aia. Toleransi masyarakat sangat tinggi, terlebih aksi sosial Tukiran sangat tulus.

“Memang Pak Tukiran ini beragama Buddha, tetapi kami tidak pernah mempersoalkan agama beliau. Bentuk kebaikan dan kepedulian sosialnya justru sangat besar, bahkan melebihi apa yang dilakukan warga Hulu Aia sendiri,” tambah Zainal.

Di akhir pernyataannya, mantan pengurus adat (Dt. Ompek Suku) dari Hulu Aia ini juga memberikan catatan kritis. Ia menyebutkan bahwa sejak zaman dahulu (katumba), Nagari mereka belum pernah tersentuh bantuan langsung dari LKAAM Sumatra Barat. Oleh karena itu, kepedulian dan bantuan sukarela dari pihak luar seperti Tukiran dinilai sangat berharga bagi pembangunan fasilitas sosial serta keagamaan di nagari mereka. (Agus Suprianto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *