Lampung, Balaiwartawan.com— Akademisi M. Nurhayatun Nufus menekankan urgensi memperkuat literasi sejarah sebagai langkah strategis menghadapi disinformasi digital dan membangun identitas bangsa. Penyampaian tersebut disampaikan dalam Seminar Literasi Sejarah Indonesia yang digelar Kementerian Kebudayaan.
Nufus memaparkan rendahnya minat baca nasional—yang menurut survei UNESCO hanya berada pada angka 0,001 persen—berdampak langsung pada dangkalnya pemahaman sejarah generasi muda. Ia melihat gejala ini di Lampung, di mana lebih dari 60% pelajar hanya mengenal nama pahlawan lokal tanpa memahami konteks perjuangannya.
Menurutnya, sejarah harus dikemas ulang agar relevan dengan dunia digital. Media seperti video pendek, podcast sejarah, komik digital, serta museum virtual dapat menjadi sarana efektif untuk menghadirkan sejarah secara menarik dan mudah diakses.
“Di tengah maraknya hoaks sejarah, masyarakat harus dibekali keterampilan verifikasi. Tanpa literasi sejarah, publik mudah dipengaruhi narasi yang memecah belah,” tegas Nufus.
Ia juga menyoroti potensi besar Lampung sebagai daerah yang kaya warisan budaya, mulai dari situs megalitikum hingga tradisi lisan dan budaya adat Saibatin serta Pepadun. Menurutnya, digitalisasi dan publikasi sejarah lokal dapat memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pariwisata berbasis budaya.
Nufus menekankan bahwa sejarah adalah jembatan antar-generasi. “Tanpa sejarah, kita kehilangan akar. Tanpa akar, kita mudah terombang-ambing oleh perubahan,” ujarnya dalam closing statement.(BW)












