DHARMASRAYA, Balaiwartawan.com– Tidak semua pengabdian lahir dari sorotan kamera. Tidak pula selalu terdengar melalui pidato atau pemberitaan. Sebagian justru tumbuh dalam kesederhanaan—ketika seorang prajurit memilih hadir, mendengar keluhan masyarakat, dan memastikan rakyat merasa aman serta diperhatikan.
Gambaran itu terlihat dalam diskusi ringan di sela momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pulau Punjung, Senin (17/8/2026).
Sosok tersebut adalah Danramil 10/Koto Baru Kodim 0310/SSDP, Kapten Cke Jarman.
Di tengah dinamika kehidupan masyarakat di wilayah teritorialnya, Kapten Cke Jarman menempatkan kedekatan dengan rakyat sebagai bagian penting dari pengabdian. Baginya, tugas sebagai aparat kewilayahan bukan sekadar menjalankan tanggung jawab kedinasan, tetapi juga membangun komunikasi, kepercayaan, dan kebersamaan dengan masyarakat.
Pendekatan itu tumbuh dari hal-hal sederhana: menyapa warga, membuka ruang komunikasi, mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat, serta membangun hubungan baik dengan tokoh masyarakat dan unsur pemerintahan di tingkat nagari.
Sebab, dari kedekatan itulah seorang aparat dapat memahami kehidupan masyarakat secara lebih nyata.
Hadir ketika dibutuhkan, mendengar ketika masyarakat berbicara, dan bergerak ketika persoalan membutuhkan perhatian.
Itulah makna pengabdian yang coba dijalankan Kapten Cke Jarman.
Bukan tentang seberapa sering namanya disebut, melainkan seberapa besar kehadirannya dapat dirasakan. Bukan pula tentang mencari pujian, tetapi bagaimana tugas sebagai prajurit mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Di balik seragam dan pangkat yang dikenakan, terdapat tanggung jawab untuk menjaga komunikasi, membantu menciptakan suasana kondusif, serta menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.
Pengabdian semacam ini mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan. Namun bagi rakyat, seorang pemimpin yang bersedia turun langsung, membuka ruang dialog, dan mendengarkan persoalan mereka memiliki arti yang jauh lebih besar.
Kapten Cke Jarman menjadi gambaran bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang besar dan gemuruh.
Kadang, pengabdian cukup dimulai dengan hadir.
Hadir untuk mendengar.
Hadir untuk memahami.
Hadir untuk membantu.
Dan hadir untuk rakyat.
Karena pada akhirnya, ukuran sebuah pengabdian bukanlah seberapa terang sorotan yang diterima, melainkan seberapa dalam manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Kapten Cke Jarman dan pengabdian tanpa sorotan—sebuah langkah sederhana untuk terus dekat dengan rakyat. Sebab prajurit sejati bukan hanya menjaga wilayah, tetapi juga merawat rasa percaya, kepedulian, dan kebersamaan di tengah masyarakat.(**).








