Limapuluh Kota, Balaiwartawan.com– Persoalan terbengkalainya pembangunan Kantor Camat Kecamatan Payakumbuh pasca kebakaran bulan Agustus tahun 2025 Kabupaten Limapuluh Kota, kian menuai sorotan tajam. Pasalnya, hampir sepuluh bulan berlalu, bangunan tersebut tampak mati suri tanpa progres pembangunan yang nyata.
Menyikapi kondisi ini, Arfi Bastian Kamil, SE, Direktur Pusat Pengembangan Kreativitas Masyarakat (PPKM), angkat bicara. Ia mendesak Pemerintah Daerah (Pemda) beserta jajaran terkait untuk segera mengambil langkah progresif guna memutus rantai keterlambatan yang berlarut-larut.
“Kita butuh langkah nyata. Perlu segera dibentuk Tim Teknis Konsultasi untuk melakukan percepatan. Jangan dibiarkan mangkrak begitu saja,” ujar Arfi tegas. (5/5/26)
Arfi mengusulkan agar pemerintah daerah tidak hanya berdiam diri, melainkan aktif menjemput bola dengan menjalin komunikasi intensif bersama pejabat di tingkat provinsi. Tak hanya itu, ia menekankan pentingnya pendekatan strategis ke Kementerian Dalam Negeri serta melibatkan perwakilan rakyat di DPR Pusat demi mendapatkan solusi administratif maupun anggaran.
Namun, di tengah ketidakpastian yang sudah berjalan hampir setahun ini, Arfi melontarkan sebuah gagasan yang cukup provokatif sebagai bentuk kepedulian. Jika langkah birokrasi terus menemui jalan buntu, ia menyerukan adanya gerakan moral dari publik.
“Bila masalah ini terus dibiarkan tanpa aksi nyata, maka publik harus bergerak. Kita bisa memulai Gerakan Peduli Pembangunan Kembali Kantor Camat Kecamatan Payakumbuh, di mana masyarakat turut berpartisipasi, bahkan hingga mengumpulkan donasi jika diperlukan,” tambahnya.
Langkah ini dipandang bukan hanya sebagai solusi finansial, melainkan sebagai bentuk tamparan keras sekaligus pengingat bagi pemangku kebijakan bahwa fasilitas pelayanan publik adalah hak dasar masyarakat yang tidak boleh diabaikan.
Kini, bola panas berada di tangan Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota. Akankah birokrasi bergerak cepat dengan tim teknisnya, atau justru masyarakat yang akan mengambil alih tanggung jawab melalui gerakan swadaya?
(Agus Suprianto)







