Limapuluh Kota, Balaiwartawan.com – Suasana khidmat menyelimuti Titian Dalam, Nagari Pandam Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sabtu (10/1/2026).

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha yang mewakili Bupati H. Safni, Sekretaris Daerah, Forkompinda, Kepala OPD, unsur Forkopimca Kecamatan Gunung Omeh, Niniak Mamak, Bamus, Majelis Guru, serta tokoh masyarakat dari Nagari Koto Tinggi sekaligus Ketua DHC 45 Kabupaten Lima Puluh Kota, Ir. Satria Imam Pribadi Dt. Junjuang Bosa.

Setelah prosesi tabur bunga tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota dari Fraksi Partai Demokrat, Dodi Arestu, AMd, menyampaikan pidato refleksi mendalam mengenai peran vital Nagari Pandam Gadang dan Nagari Koto Tinggi sebagai jantung pertahanan NKRI periode 1948-1949.

Meluruskan Jalur Sejarah PDRI
Dalam pidatonya, Dodi Arestu memberikan koreksi penting terkait catatan sejarah perjalanan tokoh bangsa yang selama ini jarang terungkap. Ia menjelaskan bahwa pasca-Agresi Militer Belanda 19 Desember 1948, pusat pemerintahan di Bukittinggi segera dievakuasi dan dibagi menjadi dua kelompok besar.
“Sebagian pimpinan menuju Halaban, namun rombongan besar lainnya yang terdiri dari pejabat pusat, Sumatera Tengah, dan Sumatera Barat langsung menuju Koto Tinggi melalui jalur Piobang-Suliki dan Palupuah-Pagadih,” ujar Dodi.

Berdasarkan catatan Wali Nagari Koto Tinggi kala itu, rombongan ini berjumlah sekitar 350 orang. Selama satu tahun penuh, masyarakat setempat secara sukarela menyediakan 700 porsi makanan setiap harinya demi melayani para pejuang. “Ini adalah bukti nyata semangat pengorbanan rakyat demi tegaknya NKRI yang luar biasa,” tambahnya.
Darah Syuhada Pemantik Gerilya Nasional
Dodi menekankan bahwa peristiwa 10 Januari 1949 bukan sekadar kontak senjata biasa. Gugurnya sembilan anggota Badan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) di Pandam Gadang merupakan upaya sadar untuk menghambat Belanda menangkap pemimpin PDRI serta melindungi keberadaan radio siaran di Koto Tinggi.
“Gugurnya sembilan pahlawan kita inilah yang memicu instruksi perang gerilya besar-besaran. Darah mereka menjadi alasan bagi Menteri Keamanan PDRI, St. Muhammad Rasyid, untuk menggelar rapat koordinasi di Situjuah pada 15 Januari 1949,” jelas Dodi Arestu.
Meskipun rapat di Situjuah berakhir tragis dengan gugurnya 69 pejuang, perintah gerilya nasional tetap tersebar luas dan berkoordinasi dengan pasukan Jenderal Sudirman di Pulau Jawa. Puncaknya, melalui transmisi radio Koto Tinggi, keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta dapat disiarkan ke seluruh dunia dalam waktu singkat, mematahkan propaganda Belanda bahwa Indonesia telah runtuh.
Menagih Komitmen Pemerintah
Menutup pidatonya, Dodi Arestu menyoroti pentingnya pemerintah memberikan “balas jasa” yang nyata kepada daerah basis perjuangan PDRI. Ia merespons langsung permintaan khusus dari Wali Nagari Pandam Gadang Devi Surya agar didirikan tugu peringatan yang layak di Titian Dalam Nagari Pandam Gadang.
“Darah sembilan syuhada ini adalah api yang menjaga NKRI tetap menyala. Saya bersama rekan-rekan di DPRD akan berjuang keras mendesak Pemerintah Kabupaten, Provinsi, hingga Pusat untuk memberikan perhatian lebih. Kami meminta Bapak Bupati melalui Wakil Bupati agar membantu penyediaan anggaran pembangunan tugu peringatan ini,” tegasnya.

Dodi mengingatkan bahwa para syuhada tidaklah mati, melainkan hidup dalam semangat perjuangan yang harus diwarisi oleh generasi sekarang. Acara peringatan ke-77 ini ditutup dengan doa bersama dan prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah mewariskan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. (Agus Suprianto)







