Limapuluh Kota, Balaiwartawan.com – Kabupaten Lima Puluh Kota hari ini melaksanakan pengukuhan pengurus Bundo Kanduang periode 2025-2029 di Aula Kantor Bupati Sarilamak. Selasa,(18/11/25).

Acara dibuka oleh Sekda Kabupaten Lima Puluh Kota, Herman Azmar. Turut hadir dalam acara tersebut antara lain Ketua PKK Kabupaten Lima Puluh Kota Ny. Asra Yanti Safni, Kepala Dinas DP2KB3A Hj. Wilfa Reflita, Kepala Dinas DPMDN Rahmad Hidayat, Ketua LKAAM Kabupaten Lima Puluh Kota, serta calon Ketua Bundo Kanduang yang akan dikukuhkan Hj. Nengsih, SPd, MPd beserta perwakilan Bundo Kanduang (5 orang per kecamatan).
Pengukuhan ini diharapkan menjadi langkah bagi para Bundo Kanduang untuk semakin berkiprah dalam mewujudkan SDM yang tangguh, beradat, dan berbudaya sesuai filosofi ABS SBK (Adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah). Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, organisasi ini diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Dalam sambutannya, Hj. Nengsih menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Bupati Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai “Payung Panji” Bundo Kanduang, yang menjadi faktor keberhasilan terlaksananya acara ini. Ia juga membaca tambo adat Minangkabau yang menggambarkan peran Bundo Kanduang:
Bundo Kanduang limpapeh rumah nan gadang
Sumarak dalam nagari
Amban puruak pagangan kunci
Pusek jalo kumpulan tali
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok mati tampaik baniaik
Unduang-unduang ka Madinah
Ka payung panji ka Sarugo
Melalui tambo tersebut, terungkap bahwa Bundo Kanduang memiliki peran yang sangat penting sebagai “limpapeh rumah nan gadang” (pemimpin di dalam rumah adat), “sumarak dalam nagari” (penghidupkan semangat masyarakat), “amban puruak pagangan kunci” (penjaga kunci tradisi dan budaya), serta “pusek jalo kumpulan tali” (pemersatu seluruh elemen masyarakat). Mereka diibaratkan sebagai “basa batuah” (ucapan yang tegas dan berharga), yang ketika hidup akan memberikan manfaat besar, dan ketika tiada akan sangat dirindukan. Tambo tersebut juga menekankan hubungan Bundo Kanduang dengan nilai-nilai agama (dengan sebutan “ka Madinah”) dan dukungan dari pemimpin daerah (“ka payuang panji ka Sarugo”).
Semoga perempuan minang kabau dapat memaknai falsafah Bundo Kanduang tersebut dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari – hari, sehingga tidak meniru budaya bangsa lain yang bertentangan dengan falsafah ABS SBK adat basandi syara’, syara’ basandi kitabbullah, ujar Hj Nengsih







