Pandeglang, Balaiwartawan.com—Seminar Literasi Sejarah Indonesia yang digelar Kementerian Kebudayaan RI di Pandeglang menghadirkan diskusi mendalam mengenai nasib sejarah lokal di era digital. Salah satu sorotan utama datang dari akademisi dan ahli sejarah, Suparta, yang menekankan bahwa penyelamatan sejarah membutuhkan keterlibatan generasi muda.
“Sejarah tidak hidup hanya dari buku. Ia hidup dari cerita masyarakat, dari tradisi lisan, dari jejak para leluhur yang hari ini belum terdokumentasi,” ujarnya tegas.
Suparta mencontohkan berbagai tradisi lisan di Pandeglang yang mulai pudar, seperti kisah karomah ulama, sejarah kampung tua, hingga memori kolektif tentang Perang Geger Cilegon. Menurutnya, minimnya dokumentasi digital menyebabkan cerita-cerita penting tersebut berpotensi hilang dalam satu generasi.
Dengan perkembangan teknologi, anak muda kini dapat merekam wawancara, mendokumentasikan situs bersejarah, hingga membuat konten sejarah melalui ponsel. “YouTube dan TikTok bukan hanya untuk hiburan. Ia bisa menjadi arsip sejarah yang dapat ditonton generasi mendatang,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, H. Ali Zamroni menilai literasi sejarah adalah benteng bangsa dari disinformasi. Data Kominfo yang mencatat ribuan hoaks politik dan SARA tiap tahun menjadi alarm penting untuk memperkuat fondasi sejarah.
Sementara Prof. Agus Mulyana menekankan perlunya sinkronisasi antara literasi digital dan sejarah agar publik tidak mudah terperangkap narasi menyesatkan.
“Di era ketika foto bisa diedit dan sejarah bisa dipelintir sedemikian rupa, masyarakat harus dibekali kemampuan memverifikasi sumber,” ujarnya.
Ketiga narasumber mendorong pemerintah daerah untuk mengembangkan platform digital sejarah Pandeglang yang menampilkan arsip, video dokumenter, peta situs sejarah, dan tradisi budaya lokal. Pelibatan pesantren juga dinilai strategis karena lembaga tersebut memiliki banyak manuskrip tua yang bernilai sejarah tinggi.
Dalam penutupnya, Suparta menyampaikan pesan yang disambut antusias peserta.
“Bangsa yang kuat adalah bangsa yang tahu dari mana ia berasal. Mari jadikan gawai di tangan kita sebagai alat pelestari sejarah,” ujarnya.(BW)












